Kamis, 04 Juni 2009

Mencetak Manusia Cerdas

Komunikasi adalah salah satu kebutuhan manusia, dan itu harus terpenuhi. 70% waktu jaga kita digunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Ketidakadaan komunikasi dalam kehidupan seseorang berakibat jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar terpuruknya kualitas hidupnya, yaitu ketidakmampuan untuk mempertahankan kehidupannya itu sendiri.Kita percaya, manusia tunduk pada hukum hereditas. Penampilan kita ditentukan oleh penampilan kedua orang tua kita, ½-nya kita dari ibu dan ½-nya lagi dari ayah. Dalam hal kecerdasan, kita dapat mengusahakan kecerdasan anak manusia menjadi jauh lebih cerdas dari orang tuanya. Setiap anak manusia dilahirkan dengan otak yang mempunyai potensi yang sama dengan otak Albert Einstein. Setiap anak dilahirkan berpeluang secerdas Albert Einstein. Usaha dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan anak harus dilakukan dengan bijak. Anak punya dunianya yang tidak sepenuhnya sama dengan dunia orang tuanya.
Plato (427 – 347 SM) mempunyai gagasan agar yang memimpin negara adalah manusia terbaik di negara itu. Mereka itu adalah manusia yang menjadikan kepalanya sebagai sumber berprilaku.

Plato membagi manusia dalam tiga kelompok dilihat dari sumber prilakunya. Ada manusia yang menjadikan sulbinya (baca nafsu) sebagai sumber berprilaku. Kelompok pertama ini cirinya ‘rakus’ mengejar kekayaan dan kenikmatan. Bagi mereka kebajikan tertinggi adalah pemilikan. Mereka cocok menjadi pedagang atau pengusaha. Yang kedua manusia yang dikuasai jantungnya. Usaha yang diperjuangkannya adalah sesuatu yang disebut kemenangan. Yang ditetapkan sebagai kebajikannya yang tertinggi adalah penaklukan. Mereka cocok menjadi tentara. Yang ketiga, insan yang teristimewa, manusia kepala. Merekalah yang akan sanggup menggunakan akal, sehingga pasar menghadirkan kesejahteraan yang berkeadilan dan pertarungan di suatu medan perang yang berperikemanusian. Mereka itu ibu kandung yang melahirkan gagasan-gagasan cemerlang. Mereka itu yang memiliki kearifan. Mereka itu filosof. “Umat manusia tidak akan selamat, kecuali bila diperintah oleh raja yang filosof, atau pangeran-pangeran yang memiliki kearifan,” kata Plato.
Untuk merealisasikan idenya itu, dibuatnya sekolah. Sebuah universitas yang pertama, Akademia namanya didirikan di Athena. Sekolah yang selain mempersyaratkan kekhususan peserta didiknya, yaitu yang unggul berprestasi, mempersyaratkan juga kemampuan matematika yang tinggi (pada saat itu istilah matematika belum digunakan). Di gerbang masuk Akademia terpampang tulisan yang menyatakan bahwa hanya yang menguasai Geometri yang diperkenankan masuk”.

Lain Plato, lain Nietzsche. Dalam pandangan Nietzsche manusia yang perkasa dan teruji kejantanannya sajalah yang pantas hidup di dunia. Tokoh lain masih banyak yang berkomentar tentang manusia yang sempurna. Mereka itu manusia cerdaskah?

Kecerdasan seseorang dapat diukur. Alat ukur kecerdasan yang biasa digunakan adalah perangkat tes IQ (Intelligence Quotient). Tetapi sayang, yang terukur hanya kecerdasan intelektualnya saja, kecakapan dan inteligensi emosi juga spiritual tak dapat diungkap dengan IQ.
Dari pandangan para pakar, manusia dan kecerdasannya dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

1. Manusia dilahirkan cerdas,
2. Manusia lahir tanpa memiliki inteligensi (kecerdasan),
3. Inteligensi berkembangan dan dapat dibina seiring dengan pertumbuhan manusia itu sendiri terutama pada lima tahun pertama dalam kehidupannya, melalui lingkungan dan pengaruh orang tua dan guru-guru.

Apa pun pandangan kita tentang manusia dan kecerdasannya, yang pasti kita dapat memiliki kecerdasan yang tinggi. Yang harus dipastikan kita adalah manusia cerdas yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan terpuji. Hal itu dapat dicapai dengan:

1. Menyatakan rasa syukur karena tercipta sebagai manusia, makhluk terbaik ciptaan-Nya.
2. Berpikir positif dan hindari komentar negatif.
3. Berkemauan keras untuk berprestasi, fastabikul khoirat.
4. Belajar sepanjang hayat, terus mengaktualisasikan potensi diri.
5. Memiliki identitas atau jati diri yang unggul

Bersyukur tercipta sebagai Manusia
Manusia, dalam al-Qur’an (21:37) disebutkan tercipta (bertabiat) tergesa-gesa. Manusia dianugrahi akal untuk berpikir, namun ia juga memiliki kecenderungan untuk tidak berpikir panjang dan mempertimbang¬kan secara matang. Sehingga tindakannya bisa merusak dan merugikan diri sendiri bahkan bisa menjatuhkan derajatnya sampai yang serendah-rendahnya di bawah derajat hewan. Waspadalah manusia!
Manusia adalah makhluk yang tercipta dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Yang melebihi sekalian makhluk. Setiap bayi manusia dilahirkan mempunyai potensi untuk menjadi ‘imago Dei’ (Citra Tuhan) di muka bumi. Berpotensi untuk menjadi pemimpin ataupun penyingkap rahasia Ilahiah. Harimau yang garang atau macan yang berang tak sanggup menggantikan manusia untuk menjadi pengelola alam ini. Bahkan raja hutan mendapat perlindungan manusia dari kepunahan.
Segala yang ada di alam semesta ini diserahkan kepada manusia untuk dimanfaatkan dan dipelihara. Kekuatan-kekuatan alam yang terkadang tampak dalam wujud yang menakutkan dan berbahaya dapat dirombak dan diubah menjadi sumber penghidupan seandainya manusia mengendalikannya dengan benar. Manusia dianugrahi kekuatan berupa kemampuan untuk memahami alam. Tapi kekuatan itu memerlukan pengembangan. Usaha melakukan pengembangan kekuatan ini, yaitu kekuatan pribadi, adalah wujud rasa syukur kita tercipta sebagai manusia.

Berpikir positif dan hindari komentar negatif
Anda sudah berpikir positif, jika Anda mempunyai pandangan positif tentang diri Anda, pekerjaan Anda, dan pandangan orang lain pada diri dan pekerjaan Anda. Berpikir positif mempunyai ekspektasi (pengharapan) yang baik dan sangat membantu dalam usaha mewujudkannya, what you think about, comes about.
Dalam dunia pendidikan hadiah dan hukuman masih menjadi topik yang terus didiskusikan. Saya berpendapat, kita perlu menunjukkan penghargaan secara terbuka terhadap setiap prestasi yang dicapai. Setiap yang berprestasi layak mendapat imbalan. Dan saya berpendapat agar terhadap anak didik hindari kritik. Kalau terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan ditunjang dengan argumentasi yang rasional. Bukankah para Malaikat di langit yang tinggi pun dzikir sebagai berikut:

سبحان من اظهر جمل و ستر القبح

“Mahasuci Dia yang menonjolkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”
Inilah akhlak Tuhan dan ini juga sepatutnya menjadi akhlak orangtua dan yang akan tua.

Berkemauan keras berprestasi
Pernah satu waktu para dokter olahraga mengatakan bahwa batas kecepatan lari manusia adalah empat menit dalam satu mil. Manusia tidak mungkin menempuh jarak satu mil kurang dari empat menit. Seorang dokter bahkan mengatakan jika manusia lari lebih dari batas kecepatan itu, jantungnya akan pecah karena kelebihan tenaga.
Roger Bannister berlatih untuk menolak anggapan para dokter itu. Ia akhirnya berhasil memecahkan rekor, menempuh jarak satu mil dengan waktu 3 menit 59,4 detik. Segera setelah peristiwa ini, orang mengatakan bahwa Bannister bukan manusia biasa. Ia superhuman. Tidak ada seorang pun yang mampu mengungguli dia. Tetapi satu bulan kemudian, John Landy, pelari Australia menempuh jarak satu mil kurang dari empat menit.
Salah satu penjelasan tentang keberhasilan ini adalah teori modelling. Ketika ada manusia yang sanggup melakukan sesuatu, manusia lain pun berpikir sama. Mereka berpikir bila orang lain mampu mengapa mereka tidak. Pikirannya mempengaruhi kekuatan fisiknya. You don’t think what you are. You are what you think. (Catatan Kang Jalal, Rosda, Bandung, 1997)

Belajar
Kita semua lahir dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan. Dan kita semua memiliki alat yang kita perlukan untuk memuaskannya. Pernahkah Anda saksikan bayi yang menconba boneka baru? Ia meletakkan pada mulutnya untuk mengetahui bagaimana rasanya. Ia menggungcangkannya, mengangkatnya, dan perlahan-lahan memutarnya supaya ia tahu bagaimana setiap sisinya menangkap cahaya. Ia menempelkannya pada telinganya, menjatuhkannya di atas tanah, dan memungutnya lagi memecahkannya dan meneliti bagian demi bagian.
Proses eksploratoris ini belakangan disebut ‘belajar global’, global learning. Belajar global adalah cara belajar yang begitu efektif dan alamniah bagi manusia sehingga jiwa anak sampai menyerap fakta, sifat fisik, dan kerumitan bahasa dengan cara yang sangat menyenangkan dan bebas stres. Tambahkan pada proses ini faktor umpan balik positif dan stimulus lingkaran. Maka Anda telah menciptakan kondisi sempurna untuk belajar yang tak terbatas.
Marilah kita lihat sebagian dari tonggak-tonggak belajar pada kehidupan awal anak yang sehat dan normal. Kemungkinan besar anak ini tak ubahnya dengan Anda. Pada saat merayakan ulang tahun yang pertama, Anda mungkin sudah bisa berjalan – sebuah proses yang secara fisik dan neurologis sangat kompleks dan hampir tidak mungkin dijelaskan dalam kata-kata atau diajarkan melalui demonstrasi. Toh Anda dapat melakukannya, walaupun berkali-kali jatuh dan jungkir balik, dan tidak pernah merasa gagal jika Anda jatuh. Mengapa? Saya yakin sebagai orang dewasa, Anda dapat menyebut beberapa peristiwa ketika Anda tidak mau belajar sesuatu yang baru hanya karena gagal sekali atau dua kali saja. Tetapi mengapa Anda terus menerus mencoba ketika belajar berjalan?
Jawabannya ialah Anda tidak mengenal konsep kegagalan. Juga yang sangat membantu adalah orangtua Anda. Mereka yakin bahwa jika Anda terus memberikan dorongan, Anda akan berhasil. Mereka selalu siap memberikan dorongan. Setiap keberhasilan selalu disambut dengan kegembiraan dan ucapan selamat, yang mendorong Anda untuk lebih banyak lagi meraih keberhasilan.
Ketika Anda berusia kira-kira dua tahun, Anda mulai berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, sebuah keterampilan yang dipelajari tanpa buku, tata bahasa, kelas, atau ujian. Jika Anda seperti kebanyakan orang, sebelum ulang tahun kelima, Anda menguasai 90% kata-kata yang akan Anda gunakan secara teratur sepanjang hidup.
Kemudian suatu hari, mungkin di kelas satu atau dua, Anda duduk di kelas dan guru berkata, ”Siapa yang tahu jawabannya?” Anda mengangkat tangan terlonjak dari tempat duduk kegirangan sampai guru menyebut nama Anda. Dengan yakin Anda menyebut jawaban itu. Tiba-tiba Anda mendengar anak-anak lain tertawa dan guru berkata “Bukan itu, salah! Saya heran mendengar jawabanmu.”
Anda merasa malu di depan kawan-kawan dan guru Anda salah seorang di antara tokoh yang memiliki otoritas dalam kehidupan Anda. Kepercayaan diri Anda goyah. Benih keraguan mulai tertanam dalam pscyche Anda.
Bagi kebanyakan orang, inilah permulaan citra diri negatif. Sejak saat itu belajar menjadi beban. Keraguan tumbuh di dalam diri, dan Anda mulai makin sedikit mengambil resiko.
Umpan balik negatif yang terus-menerus ini sangat mematikan. Setelah beberapa tahun di sekolah, terjadilah learning shutdown (kebuntuan belajar). (Quantum Learning 1992)

Berikut puisi yang patut untuk direnungkan.

Children Learn What They Live
(by Dorothy Law Nolte)

If a child lives with criticism, He learns to condemn.
If a child lives with hostility, He learns to fight
If a child lives with ridicule, He learns to be shy.
If a child lives with shame, He learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance, He learns to be patient
If a child lives with encouragement, He learns to be confident.
If a child lives with praise, He learns to appreciate
If a child lives with fairness, He learns justice.
If a child lives with security, He learns to have faith.
If a child lives with approval, He learns to like himself
If a child lives with acceptance and friendship, He learns to find love in the world.

Anak Belajar dari Kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Jati diri yang unggul
Adalah Dr. Suci Martiningsih Wibowo, psikolog yang telah serius mengkaji tentang jati diri orang Indonesia. Sebelumnya konsep jati diri belum jelas di Indonesia. Sebenarnya ada buku karya Mukhtar Lubis berjudul “Manusia Indonesia”. Lubis melukiskan bahwa manusia Indonesia itu banyak negatifnya. Manusia Indonesia cenderung mengekor, tidak punya pendapat. Padahal ciri orang yang mempunyai jati diri adalah yang mempunyai pendapat sendiri (dapat saja sih pendapat kita sama dengan pendapat orang lain tapi harus wanti-wanti tidak ngekor gitu lho), mampu mengutarakan pendapatnya dan bertanggung jawab.
Seorang pramuka yang berkode kehormatan try satya dan berprilaku dasa darma, dapat dipastikan mempunyai jati diri yang unggul. Cobalah perbaharui ikrar janji sebagai seorang pramuka setiap pagi. Sebagaimana Jendral Yusuf kalau akan melangkahkan kakinya pergi keluar rumah berkata, “Saya adalah Yusuf, seorang yang jujur dan bertanggung jawab.”
“Who am I,” demikian Prof. Emil Salim mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri, dan itu sering kali dilakukannya. Pertanyaan yang mengantarkan kemauan untuk bertanggung jawab atas keberadaan dirinya sekarang. Gus Dur, mantan Presiden RI, tokoh Demokrasi pendiri dan pemimpin Forum Demokrasi, mengutarakan bahwa agar demokrai terbentuk identitas harus dikembangkan. Sekiranya terjadi sebuah perbedaan lazimnya dalam dunia demokrasi, tetapi hal itu tetap dalam upaya menentukan yang terbaik buat negeri ini bukan sekedar untuk berbeda.
Siapa saya? Saya adalah pelajar, siswa SMU Negeri 1 Majalengka yang bisa mengubah dunia. Dengan belajar, saya bisa mengubah dunia. Paling tidak dunia yang paling dekat dengan saya, yaitu dunia pandangan, pikiran, dan hati saya. Saya adalah manusia cerdas yang bertanggung jawab.


0 komentar:

Poskan Komentar